24 Maret 2015

Let's Create With a New Media

Jadi sekarang ini kita berada di era yang semuanya bisa kita ketahui dalam satu kali “klik”. Ya, teknologi sekarang kian berkembang dan semakin canggih. Jadi, kita juga dituntut untuk mengerti dan bisa untuk mengakses teknologi-teknologi itu. Karena sekarang kita sudah memasuki Global Village, yaitu ketika kita akan dikendalikan oleh teknologi itu sendiri, dan ketika kita tidak dapat mengenal teknologi, maka kita akan dikucilkan. Bisa kita lihat sendiri, hampir setiap orang mengakses teknologi, pun mengakses internet, ditambah semakin beragamnya social media seperti path, instagram, twitter, facebook, snapchat, ask.fm yang membuat kita semakin betah sama handphone, bahkan hal pertama yang orang lakukan ketika bangun tidur adalah mengecek handphone, lalu kita akan merasa kebingungan jika kuota internet di handphone habis, dan zaman sekarang café itu semakin dicari apabila di café tersebut menyediakan wifi berkecepatan tinggi dan colokan, yaa…seakan-akan hidup ini tidak akan bisa jika tanpa teknologi dan internet. Kecanggihan ini terjadi karena sekarang banyak bermunculan media-media baru, ditambah anak-anak muda zaman sekarang yang tidak mau ketinggalan zaman, sehingga selalu update masalah-masalah teknologi.

Dalam tulisan ini, saya akan mengulas ulang chapter “Creating Community with Media : History, Theories and Scientific Investigations” dari buku Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITC’s. Jadi, chapter ini menceritakan hubungan antara penggunaan media baru dan masyarakat. Dari mulanya kita hanya dapat berkomunikasi dengan bertatap muka, tapi dengan adanya media baru ini, sangat mungkin untuk berkomunikasi melalui dunia maya tanpa harus bertatap muka. Dengan adanya media baru ini mempermudah kita dalam segala hal, sehingga cukup jelas bahwa media sangat berpengaruh untuk kehidupan sosial kita. Tapi kadang, kebanyakan dari kita belum menggunakan media ini dengan bijak, masih saja ada orang yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan teknologi untuk kejahatan, sehingga masih saja sering terdengar adanya cyber crime. Sehingga kita perlu memilah konten mana yang positif, dan mana konten yang negative yang tidak perlu kita konsumsi. Sehingga nilai-nilai positif dalam penggunaan media baru dapat kita rasakan manfaatnya.

Segala sesuatu itu tidak selamanya memiliki dampak positif, pasti dilain sisi juga memiliki dampak yang negative. Hal positif yang dapat kita ambil dari penggunaan media baru menurut Barlow et al. (1995), dengan adanya teknologi dan media baru, pelaku penjahatan bisa menghapus ketidaksetaraan dan kejahatan dalam masyarakat. Saya sempat mengunduh aplikasi android device manager, yaitu suatu aplikasi untuk melacak handphone kita yang hilang. Jadi dengan menggunakan GPS,  kita akan mendapatkan lokasi dimana handphone kita berada. Walaupun sejujurnya saya masih kurang paham bagaimana cara penggunaannya, tapi saya cukup tercengang dengan teknologi yang kian canggih. Kemudian hal positif yang lain adalah aktif dalam perdagangan. Seperti yang kita lihat sekarang ini, semakin menjamurnya aktivitas jual beli dalam dunia maya atau yang sering kita sebut online shop. Saya termasuk orang yang doyan belanja lewat online shop, karena biasanya barang-barang online shop sangat beragam, lebih update, dan harganya lebih murah dibanding di pasaran. Tapi kadang kita perlu berhati-hati karena suka ada penjual online shop yang berbuat curang, dari foto barang yang ia jual akan berbeda jauh dengan aslinya, atau kadang suka ada penjual yang kabur ketika pembeli sudah mentransfer. Jadi, kita juga harus berhati-hati ketika berbelanja di online shop.
Sedangkan dampak negatifnya, dengan adanya media baru maka akan mencemari pikiran muda. Zaman sekarang, teknologi tidak hanya digunakan oleh remaja saja, bahkan cakupannya sudah sampai pada anak dibawah umur. Contohnya adik sepupu saya, ia sangat tergila-gila dengan Ipadnya. Dimanapun dan kapanpun, ia selalu bermain game online di Ipad. Sehingga sangat sedikit sekali waktu berkomunikasi dengan orang tuanya, karena ketika jam makan malam saja, adik sepupu saya disuapi oleh ibunya, tapi tangannya tetap mengotak-atik Ipad. Apalagi dalam game online, suka muncul iklan-iklan yang berbau pornografi, yang tidak patut dikonsumsi oleh anak dibawah umur. Memang, seharusnya orang tua juga harus tegas mengatur waktu kapan anaknya boleh bermain dengan gadget, agar komunikasi dengan orang tua tetap berjalan, bukan malah asyik dengan gadgetnya sendiri. Jika kita gunakan secara bijak, sebenarnya dengan adanya media baru ini akan mempermudah kita untuk mengetahui informasi atau berita paling baru bukan hanya di dalam negeri, bahkan di luar negeri. Ada banyak aplikasi di handphone seperti detikcom, atau kompascom, berisi berita-berita paling update, kalau zaman dulu kita harus berlangganan Koran untuk mendapat berita, atau menonton acara berita di televise, tapi sekarang kira bisa mengakses berita hanya dalam satu kali “klik” saja. Begitu mudah..

Media baru juga memudahkan kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dimana saja dan kapan saja. Sehingga akhirnya, kemudian muncul istilah virtual community, yaitu sekelompok orang yang memiliki minat yang sama dan kemudian slaing berkumpul dan berinteraksi melalui dunia maya. Istilah ini dicetuskan oleh Rheingold  dalam The Virtual Community. Homesteading on the Electronic Frontier (2000). Rheingold menjelaskan bahwa virtual community memiliki percakapan layaknya komunitas bertatap muka. Virtual community juga dijadikan sebagai ajangnya bertukar informasi, dan sebagai tempat untuk melakukan perdagangan. Dengan adanya kemudahan ini, kita juga bisa memperluas channel pertemanan kita. Tapi, organic community tetap saja lebih baik, karena kita mengenal lebih dekat anggota kelompok kita melalui dunia nyata, bukan hanya dunia maya saja. Apalagi sekarang masih saja ada orang yang iseng membuat identitas palsu, yang kadang merugikan orang banyak.

Penggunaan media baru memang banyak memiliki dampak yang negative, tapi jika kita bijak menggunakannya, maka kita tidak akan mendapat imbasnya. Kita harus bisa memilih mana konten yang baik untuk kita akses, dan mana konten yang buruk. Dan kita bukan hanya menggunakan teknologi dan media itu saja, tapi setidaknya, kita harus menciptakan konten yang berbobot agar dapat bermanfaat untuk orang lain.

We have to be a smart user!


Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. 


Mauliyana Puspa Adityasari (F1C013070)