Teknologi sekarang memang semakin canggih, seperti yang saya
katakan pada postingan sebelumnya, kita berada di zaman yang mungkin bisa
disebut dunia dalam
genggaman. Setiap apa yang kita lakukan memang ternyata memiliki
perspektifnya sendiri, setelah saya mengikuti perkuliahan Teknologi Komunikasi,
saya akhirnya memiliki pemahaman baru mengenai apa saja perspektif dalam
penggunaan internet. Postingan kali ini, saya akan membahas mengenai dua
perspektif, yaitu perspektif optimis, dan perspektif pesimis, dan implikasi
internet terhadap partisipasi masyarakat dalam politik. Apalagi ditambah
informasi yang kian berlimpah, yang membuat masyarakat semakin mudah untuk
mengetahui perkembangan politik saat ini. Tapi kita juga harus menjadi
masyarakat yang cerdik, dan kritis, sehingga kita tidak hanya mengkonsumsinya
saja, dan membiarkan media membentuk persepsi kita, padahal kita belum tahu
berita itu benar atau salah. Karena jika kita bertindak ceroboh dalam mengakses
internet, kita bisa saja terkena dampak negatifnya, kita malahan terbuai atas
pemberitaan atau konten yang dipublish di internet. Saya berharap tulisan ini
dapat membawa manfaat dan menggiring kita agar menjadi user yang kritis, dan bijak.
Walaupun kelihatannya internet sangat mudah untuk diakses
oleh semua kalangannya, namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat
mengakses, begitu juga dengan keuntungan yang didapat, setiap orang memiliki
porsi yang berbeda. Itulah yang dinamakan perspektif pesimis.
Menurut Neu, et.al (1999) masyarakat minoritas seperti orang Afrika-Amerika dan
Hispanik non-putih sangat sedikit kemungkinannya untuk memiliki computer di
rumahnya dan kurang memiliki akses terhadap jaringan dibandingkan masyarakat
kulit putih dan masyarakat Asia. Sama halnya seperti di Indonesia, masih ada
wilayah yang belum dapat mengakses internet, selain jaringan yang memang belum
sampai ke wilayah itu, dan juga masyarakatnya belum sadar akan pentingnya hal
itu. Computerpun mungkin hanya segelintir orang yang punya, masyarakat
pedalaman lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dibanding
mengikuti perkembangan informasi. Masyarakat tersebut jelas kehilangan
kesempatan untuk ikut dalam kegiatan melalui internet. Selain itu, faktor yang
membuat akses internet tidak merata yaitu orang-orang yang berpendidikan dan
berpendapatan rendah, serta usia yang lebih tinggi memiliki pengalaman yang
minim dalam dunia online. Dalam studi ini juga ada dikatakan bahwa perempuan
lebih banyak mengakses internet dibanding laki-laki. Tapi sekarang
kebalikannya, lebih banyak laki-laki dibanding perempuan sebagai pengguna internet.
Jadi, faktor gender juga dapat mempengaruhi akses internet yang tidak merata.
Sementara itu, perspektif optimis yaitu akses internet yang merata,
semua orang dapat mengakses internet, walaupun seorang penyandang cacat. Pada
tahun 1990, pemerintah mencari cara untuk memberikan pelayanan universal dan
termasuk penyandang cacat. Berbeda dengan perspektif sebelumnya, dalam
perspektif ini, pemerintah sangat gencar untuk meratakan agar internet atau
teknologi dapat diakses oleh penyandang cacat sekalipun. Seperti yang dikatakan
Borchert (1998), bagian 255 dari Undang-Undang Telekomunikasi mensyaratkan
layanan telekomunikasi dan membuat peralatan yang dikhususkan untuk penyandang
cacat.
Pertanyaannya adalah, apakah dengan adanya kedua perspektif
ini akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang politik?
Rheingold (1993) percaya bahwa masyarakat akan semakin
terlibat di proses demokrasi. Masyarakat juga menggunakan internet sebagai
sarana untuk menggali informasi seputar politik. Menurut saya, dengan adanya internet
justru akan mengurangi intensitas komunikasi interpersonal, bahkan sikap
antisocial dalam masyarakat. Sehingga banyak orang menganggap bahwa dunia maya
bisa mengurangi arti dari masyarakat dunia nyata. Karena teknologi semakin
canggih, kita dapat menggunakan teknologi untuk media berkomunikasi jarak jauh
tanpa bertatap muka. Van Dijk (1998) menjelaskan sebuah interaksi tatap muka
dalam masyarakat atau disebut masyarakat organic yang dibentuk oleh kelompok
yang relative homogen karena masing-masing individu memiliki perbedaan
kepentingan, namun sebaliknya, masyarakat dalam dunia maya biasanya heterogen
karena satu kepentingan yang dapat menghubungkan mereka. Namun tetap saja yang
lebih baik adalah komunikasi yang saling bertatap muka, karena kita sudah
mengenal lebih dalam anggota kelompok kita, bukan hanya sekedar dalam dunia
maya saja. Manusia zaman sekarang lebih individualis, lebih mementingkan
kepentingan pribadinya.
Jika dilihat dari perspektif optimisnya, ya.. memang
masyarakat kini sudah mau, setidaknya mencari tahu informasi politik yang ada
di Indonesia. Apalagi ditambah dengan adanya teknologi dan internet yang
semakin canggih. Memang benar,
dengan adanya internet aktivitas masyarakat dalam mencari berita politik di
media online meningkat ditambah pengetahuan masyarakat tentang politik juga
lebih baik. Namun, semua itu tidak menjamin masyarakat akan terlibat dan
partisipasi politiknya meningkat. Selain mudah, informasi tersebut juga
diperoleh secara cepat dan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Namun,
informasi yang ada juga perlu kita saring, yang mana yang pantas untuk kita
iyakan, jangan mudah terpengaruh oleh media. Apalagi zaman sekarang, perusahaan
media sudah diambil alih oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, jadi bisa
saja yang diberitakan itu hanya untuk membuat citra baik salah satu pihak.
Sedangkan jika dilihat dari perspektif pesimisnya, masih saja ada orang yang
tidak mengerti isi konten berita tersebut, jadi hanya membaca saja, tanpa ikut
berpartisipasi didalamnya. Kemudian juga ditambah dengan banyaknya
informasi-informasi yang membuat masyarakat bingung, mana berita yang valid,
sehingga dari situlah kadang partisipasi masyarakat menurun.
Kesimpulan dari tulisan ini bahwa tiap unsur lagi-lagi pasti memiliki
efek positif dan negative, tergantung kita sebagai pengguna untuk menyikapinya.
Yang saya ingat dari Pak Adi, dosen saya berkata bahwa internet adalah
eksperimen manusia yang menimbulkan manfaat dan malapetaka. Mengapa disebut
malapetaka? Karena nanti ada kalanya kita merasa terisolasi dan tidak mengenal
lingkungan sosial karena pengaruh internet. Internet adalah eksperimen yg
gagal, karena banyak efek negativenya, manusia jadi mudah menyepelekan suatu
masalah. Marilah kita cerdas memanfaatkannya agar tidak mendapat petaka
tersebut, agar kita tidak jatuh pada internet itu.
Don't let internet controls you!
Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4 : Perspective on
Internet Use: Access, Involvement an Interaction