1 April 2015

Perspektif dalam internet


Teknologi sekarang memang semakin canggih, seperti yang saya katakan pada postingan sebelumnya, kita berada di zaman yang mungkin bisa disebut dunia dalam genggaman. Setiap apa yang kita lakukan memang ternyata memiliki perspektifnya sendiri, setelah saya mengikuti perkuliahan Teknologi Komunikasi, saya akhirnya memiliki pemahaman baru mengenai apa saja perspektif dalam penggunaan internet. Postingan kali ini, saya akan membahas mengenai dua perspektif, yaitu perspektif optimis, dan perspektif pesimis, dan implikasi internet terhadap partisipasi masyarakat dalam politik. Apalagi ditambah informasi yang kian berlimpah, yang membuat masyarakat semakin mudah untuk mengetahui perkembangan politik saat ini. Tapi kita juga harus menjadi masyarakat yang cerdik, dan kritis, sehingga kita tidak hanya mengkonsumsinya saja, dan membiarkan media membentuk persepsi kita, padahal kita belum tahu berita itu benar atau salah. Karena jika kita bertindak ceroboh dalam mengakses internet, kita bisa saja terkena dampak negatifnya, kita malahan terbuai atas pemberitaan atau konten yang dipublish di internet. Saya berharap tulisan ini dapat membawa manfaat dan menggiring kita agar menjadi user yang kritis, dan bijak.

Walaupun kelihatannya internet sangat mudah untuk diakses oleh semua kalangannya, namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat mengakses, begitu juga dengan keuntungan yang didapat, setiap orang memiliki porsi yang berbeda. Itulah yang dinamakan perspektif pesimis. Menurut Neu, et.al (1999) masyarakat minoritas seperti orang Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih sangat sedikit kemungkinannya untuk memiliki computer di rumahnya dan kurang memiliki akses terhadap jaringan dibandingkan masyarakat kulit putih dan masyarakat Asia. Sama halnya seperti di Indonesia, masih ada wilayah yang belum dapat mengakses internet, selain jaringan yang memang belum sampai ke wilayah itu, dan juga masyarakatnya belum sadar akan pentingnya hal itu. Computerpun mungkin hanya segelintir orang yang punya, masyarakat pedalaman lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dibanding mengikuti perkembangan informasi. Masyarakat tersebut jelas kehilangan kesempatan untuk ikut dalam kegiatan melalui internet. Selain itu, faktor yang membuat akses internet tidak merata yaitu orang-orang yang berpendidikan dan berpendapatan rendah, serta usia yang lebih tinggi memiliki pengalaman yang minim dalam dunia online. Dalam studi ini juga ada dikatakan bahwa perempuan lebih banyak mengakses internet dibanding laki-laki. Tapi sekarang kebalikannya, lebih banyak laki-laki dibanding perempuan sebagai pengguna internet. Jadi, faktor gender juga dapat mempengaruhi akses internet yang tidak merata.

Sementara itu, perspektif optimis yaitu akses internet yang merata, semua orang dapat mengakses internet, walaupun seorang penyandang cacat. Pada tahun 1990, pemerintah mencari cara untuk memberikan pelayanan universal dan termasuk penyandang cacat. Berbeda dengan perspektif sebelumnya, dalam perspektif ini, pemerintah sangat gencar untuk meratakan agar internet atau teknologi dapat diakses oleh penyandang cacat sekalipun. Seperti yang dikatakan Borchert (1998), bagian 255 dari Undang-Undang Telekomunikasi mensyaratkan layanan telekomunikasi dan membuat peralatan yang dikhususkan untuk penyandang cacat.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan adanya kedua perspektif ini akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang politik?

Rheingold (1993) percaya bahwa masyarakat akan semakin terlibat di proses demokrasi. Masyarakat juga menggunakan internet sebagai sarana untuk menggali informasi seputar politik. Menurut saya, dengan adanya internet justru akan mengurangi intensitas komunikasi interpersonal, bahkan sikap antisocial dalam masyarakat. Sehingga banyak orang menganggap bahwa dunia maya bisa mengurangi arti dari masyarakat dunia nyata. Karena teknologi semakin canggih, kita dapat menggunakan teknologi untuk media berkomunikasi jarak jauh tanpa bertatap muka. Van Dijk (1998) menjelaskan sebuah interaksi tatap muka dalam masyarakat atau disebut masyarakat organic yang dibentuk oleh kelompok yang relative homogen karena masing-masing individu memiliki perbedaan kepentingan, namun sebaliknya, masyarakat dalam dunia maya biasanya heterogen karena satu kepentingan yang dapat menghubungkan mereka. Namun tetap saja yang lebih baik adalah komunikasi yang saling bertatap muka, karena kita sudah mengenal lebih dalam anggota kelompok kita, bukan hanya sekedar dalam dunia maya saja. Manusia zaman sekarang lebih individualis, lebih mementingkan kepentingan pribadinya.


Jika dilihat dari perspektif optimisnya, ya.. memang masyarakat kini sudah mau, setidaknya mencari tahu informasi politik yang ada di Indonesia. Apalagi ditambah dengan adanya teknologi dan internet yang semakin canggih. Memang benar, dengan adanya internet aktivitas masyarakat dalam mencari berita politik di media online meningkat ditambah pengetahuan masyarakat tentang politik juga lebih baik. Namun, semua itu tidak menjamin masyarakat akan terlibat dan partisipasi politiknya meningkat. Selain mudah, informasi tersebut juga diperoleh secara cepat dan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Namun, informasi yang ada juga perlu kita saring, yang mana yang pantas untuk kita iyakan, jangan mudah terpengaruh oleh media. Apalagi zaman sekarang, perusahaan media sudah diambil alih oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, jadi bisa saja yang diberitakan itu hanya untuk membuat citra baik salah satu pihak. Sedangkan jika dilihat dari perspektif pesimisnya, masih saja ada orang yang tidak mengerti isi konten berita tersebut, jadi hanya membaca saja, tanpa ikut berpartisipasi didalamnya. Kemudian juga ditambah dengan banyaknya informasi-informasi yang membuat masyarakat bingung, mana berita yang valid, sehingga dari situlah kadang partisipasi masyarakat menurun.

Kesimpulan dari tulisan ini bahwa tiap unsur lagi-lagi pasti memiliki efek positif dan negative, tergantung kita sebagai pengguna untuk menyikapinya. Yang saya ingat dari Pak Adi, dosen saya berkata bahwa internet adalah eksperimen manusia yang menimbulkan manfaat dan malapetaka. Mengapa disebut malapetaka? Karena nanti ada kalanya kita merasa terisolasi dan tidak mengenal lingkungan sosial karena pengaruh internet. Internet adalah eksperimen yg gagal, karena banyak efek negativenya, manusia jadi mudah menyepelekan suatu masalah. Marilah kita cerdas memanfaatkannya agar tidak mendapat petaka tersebut, agar kita tidak jatuh pada internet itu.

Don't let internet controls you!

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and
Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4 : Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction