Weekend kemarin, saya sekeluarga menyempatkan untuk makan malam bersama di salah satu rumah makan. Jadi, kita sekeluarga itu berbeda-beda kota alias misah-misah. Mama saya di Cirebon, papa saya bekerja di Bandung, kakak saya kuliah di Unpad Jatinangor, dan saya sendiri menuntut ilmu di Unsoed Purwokerto. Momen kumpul bareng itu emang yang paling ditunggu, saya dan kakak kadang janjian mengatur jadwal untuk pulang ke Cirebon agar bisa berkumpul bersama. Balik lagi ke tempat makan ya, jadi pas itu saya sekeluarga makan malem bareng, dan tepat di sebelah meja kita, ada dua anak sekitar 8 tahunan, dan orang tuanya yang juga lagi makan malem. Tapi pas saya perhatikan, ternyata mereka sekeluarga itu malah asyik dengan gadgetnya masing-masing, mereka saling diam dan mata mereka terpaku pada layar handphonenya. Perbedaan yang cukup mencolok, karena saya sekeluarga daritadi berbincang-bincang dari hal yang penting sampe yang ngga penting, dan ketawa-ketawa sembari menunggu pesanan datang. Intinya, kita menghargai kebersamaan. Momen bareng kayak gini soalnya jarang banget kita rasain. Kalo masalah gadget, ya bisalah ngecek sekali atau dua kali, ngga perlu sampe terus-terusan liat gadget terus. Hargain orang yang lagi bareng sama kita. Gitu..
Pas banget nih sama topik yang kali ini dibahas di mata kuliah teknologi komunikasi, kemarin itu ngebahas tentang children and new media. Jadi bisa diliat realitasnya sekarang, kalo anak-anak zaman sekarang udah pegang gadget, asyik sama game online, udah ngerasa punya dunianya sendiri kalo udah pegang gadget. Padahal media baru itu bukan buat main-main, tapi harus dipake dengan bijak biar bisa didapetin manfaatnya. Orang tua berperan paling penting, menurut saya orang tua bukan melarang anak menggunakan gadget, TAPI dibatasi penggunaannya, dan selalu dikontrol ketika anak main gadget. Contohnya, adik sepupu saya (kelas 5 SD), dia emang udah kenal gadget, bahkan dia punya blog sendiri loh, tapi dia ngga terus-terusan main gadget, orang tuanya membatasi, ia hanya dibolehkan main gadget setiap weekend, dan boleh mengakses internet kalo udah belajar, atau ngaji. Menurut saya, cara seperti itu memang paling bener sih, bukannya ngelarang tapi diajarkan biar penggunaan internet ngga menyimpang.
Kenapa sih children and new media itu perlu buat dibahas?
Percaya atau ngga, internet itu udah jadi ajang permainan baru yang mengasyikkan dan kadang bikin menghanyutkan anak karena kadang anak-anak jadi kecanduan pada internet. Penting buat orang tua buat ngejaga anak-anaknya dari pengaruh buruk internet, tapi juga bukan berarti mereka dilarang sama sekali untuk mengetahui dan menggunakanya. New media berpengaruh pada semua kalangan termasuk anak-anak. Dikutip dari kompas.com, bahwa pengguna internet di Indonesia sebagian besar berusia muda. Hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia menunjukkan pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia antara 15-19 tahun.
Perlu diakui bahwa kita sekarang ada di era digitalize, dimana kita bisa tahu informasi lewat benda digital. Seperti yang dikatakan oleh Seymour Papert (1993), ia berpendapat bahwa komputer menjadi bentuk baru dalam pembelajaran, yang melewati batasan-batasan metode sebelumnya seperti percetakan dan televisi. Anak-anak terkesan sebagai orang yang paling bertanggungjawab pada pendekatan-pendekatan baru ini: komputer terkadang membebaskan kreatifitas natural dan hasrat untuk belajar, yang buntu karena metode-metode kuno. Kalo zaman dulu, kita harus pergi ke perpustakaan buat nyari bahan tugas, tapi sekarang cukup ketik-ketik lewat mbah google, muncul deh semua yang kita butuhin, atau sekarang kita bisa baca buku elektronik, atau disebut e-book, jadi kita ngga perlu punya bentuk fisik buku tersebut, cukup baca-baca lewat layar handphone saja. Tapi emang sih, bikin kita jadi males. Menurut saya, ngga akan ada yang bisa menggantikan menyenangkannya membaca buku dibanding memandang ebook. Ada perasaan senang, ketika kita mempunyai sebuah buku yang berupa fisik, bukan hanya visualnya saja. Rasa ketika membolak-balikkan halaman demi halaman itu akan berbeda ketika kita hanya menekan-nekan tombol keyboard di komputer, atau gadget.
Emang sih selalu ada dampak baik dan buruk kalau mau belajar sesuatu. Jon Katz (1996) berpendapat bahwa internet itu diibaratkan sebagai makna kebebasan anak-anak: internet menyediakan anak-anak kesempatan untuk lepas dari kontrol orang dewasa, dan untuk membentuk budaya dan komunitas mereka sendiri. Misalnya, anak-anak kadang ngerasa lebih asyik kalau udah main game, ia merasakan kalau game tersebut adalah dunianya, dan anggota-anggota yang bermain game tersebut sebagai komunitasnya. Main game juga sangat menarik karena dapat memicu motorik anak, misalnya dalam menganalisis sifat aturan, mencari kesempatan, membentuk sebuah strategi, dan waktu bermain. Game sebenarnya punya dampak positif dan negatif. Dampak positif ditunjukkan dengan tanggapnya anak dalam mengambil keputusan dan mengatur strategi yang harus dilakukan, sedangkan dampak negativenya yaitu kurangnya bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar, dan waktu yang digunakan hanya untuk bermain game saja. Ketika dalam games, akan ada tanda-tanda (semiotika), yang sifatnya tidak hanya konotatif dan denotative. Biasanya tanda-tanda itu cuma bisa dimengerti oleh sesame gamers. Karena menurut mereka, bermain game itu bukan hanya sekedar permainan, namun didalamnya permainan tersebut memiliki ideology yang memliki makna lebih dari sekedar kata-kata.
Transmedia Intertextual, itu apa sih?
Masih ada kaitannya sama children and new media. Ketika games menjadi budayanya sendiri yang dibuat oleh anak-anak. Lalu muncullah oknum-oknum para kapitalis yang punya modal yang kemudian memanfaatkan budaya tersebut, dengan menawarkan bukan hanya gamenya saja, tapi alat-alat yang biasa digunakan anak-anak seperti alat sekolah, baju, dan lain yang memiliki karakter film atau games yang biasa anak-anak sukai. Itulah transmedia intertextual. Seakan dunia virtual menjadi dunia real, ketika anak-anak tidak hanya melihat film atau memainkan gamenya saja, tapi anak-anak bisa memiliki semacam boneka, alat sekolah dan lain-lain yang bergambar karakter tersebut. Contohnya adalah saya sendiri hehehe. Saya sangat suka dengan serial sesame street yang ditayangkan di televisi, dan saya jadi kegirangan sendiri ketika melihat ada tas elmo, dompet elmo, boneka elmo, lalu kemudian saya membeli barang-barang serba elmo tersebut. Secara tidak sadar, saya telah diperalat oleh oknum-oknum kapitalis. Berdasarkan pengalaman pribadi, ada perasaan puas dan senang ketika saya bisa memiliki barang serba elmo tersebut, karena kita punya bentuk fisiknya, ngga cuma virtualnya saja.
Jadi kesimpulan dari beberapa paragraph ini adalah media baru memiliki dampak negatif dan positif bagi anak. Tapi kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, pasti kita akan dapat dampak yang positif. Nixon (1998) menjelaskan bahwa komputer mewakili jendela ke dunia baru, cara mengembangkan intuisi anak-anak yaitu rasa heran dan haus akan pengetahuan. Dengan berkembangnya teknologi semua fasilitas pun bisa didapatkan sebagai contoh game dizaman yang modern ini anak-anak sekarang lebih memilih bermain didepan layar computer dari pada bersosialisasi diluar dengan teman sebaya mereka. Game bisa membuat perilaku jadi kasar dan agresif karena terpengaruh oleh apa yang dilihat dalam game tersebut. Memang sudah seharusnya anak-anak diajarkan lebih dahulu mengenai media, agar ia tidak salah langkah, karena kebanyakan anak tidak tahu harus berbuat apa saat menggunakan media baru. Dengan adanya teknologi baru memungkinkan anak-anak untuk menciptakan dunianya sendiri. Sehingga mau tidak mau, pemanfaatannya harus bisa optimal, dampak positif dan negative itu bergantung dari kita sebagai pengguna. Diharapkan agar kita bukan hanya menyediakan teknologi, tapi harus cakap dan bijak, agar tidak menjadi korban dari dampak kecanggihan teknologi.
Be a smart internet user! Your time with your family and friends are priceless J