7 April 2015

Children in New Media Era


Weekend kemarin, saya sekeluarga menyempatkan untuk makan malam bersama di salah satu rumah makan. Jadi, kita sekeluarga itu berbeda-beda kota alias misah-misah. Mama saya di Cirebon, papa saya bekerja di Bandung, kakak saya kuliah di Unpad Jatinangor, dan saya sendiri menuntut ilmu di Unsoed Purwokerto. Momen kumpul bareng itu emang yang paling ditunggu, saya dan kakak kadang janjian mengatur jadwal untuk pulang ke Cirebon agar bisa berkumpul bersama. Balik lagi ke tempat makan ya, jadi pas itu saya sekeluarga makan malem bareng, dan tepat di sebelah meja kita, ada dua anak sekitar 8 tahunan, dan orang tuanya yang juga lagi makan malem. Tapi pas saya perhatikan, ternyata mereka sekeluarga itu malah asyik dengan gadgetnya masing-masing, mereka saling diam dan mata mereka terpaku pada layar handphonenya. Perbedaan yang cukup mencolok, karena saya sekeluarga daritadi berbincang-bincang dari hal yang penting sampe yang ngga penting, dan ketawa-ketawa sembari menunggu pesanan datang. Intinya, kita menghargai kebersamaan. Momen bareng kayak gini soalnya jarang banget kita rasain. Kalo masalah gadget, ya bisalah ngecek sekali atau dua kali, ngga perlu sampe terus-terusan liat gadget terus. Hargain orang yang lagi bareng sama kita. Gitu..

Pas banget nih sama topik yang kali ini dibahas di mata kuliah teknologi komunikasi, kemarin itu ngebahas tentang children and new media. Jadi bisa diliat realitasnya sekarang, kalo anak-anak zaman sekarang udah pegang gadget, asyik sama game online, udah ngerasa punya dunianya sendiri kalo udah pegang gadget. Padahal media baru itu bukan buat main-main, tapi harus dipake dengan bijak biar bisa didapetin manfaatnya. Orang tua berperan paling penting, menurut saya orang tua bukan melarang anak menggunakan gadget, TAPI dibatasi penggunaannya, dan selalu dikontrol ketika anak main gadget. Contohnya, adik sepupu saya (kelas 5 SD), dia emang udah kenal gadget, bahkan dia punya blog sendiri loh, tapi dia ngga terus-terusan main gadget, orang tuanya membatasi, ia hanya dibolehkan main gadget setiap weekend, dan boleh mengakses internet kalo udah belajar, atau ngaji. Menurut saya, cara seperti itu memang paling bener sih, bukannya ngelarang tapi diajarkan biar penggunaan internet ngga menyimpang.

Kenapa sih children and new media itu perlu buat dibahas?

Percaya atau ngga, internet itu udah jadi ajang permainan baru yang mengasyikkan dan kadang bikin menghanyutkan anak karena kadang anak-anak jadi kecanduan pada internet. Penting buat orang tua buat ngejaga anak-anaknya dari pengaruh buruk internettapi juga bukan berarti mereka dilarang sama sekali untuk mengetahui dan menggunakanya. New media berpengaruh pada semua kalangan termasuk anak-anak. Dikutip dari kompas.com, bahwa pengguna internet di Indonesia sebagian besar berusia muda. Hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia menunjukkan pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia antara 15-19 tahun.

Perlu diakui bahwa kita sekarang ada di era digitalize, dimana kita bisa tahu informasi lewat benda digital. Seperti yang dikatakan oleh Seymour Papert (1993), ia berpendapat bahwa komputer menjadi bentuk baru dalam pembelajaran, yang melewati batasan-batasan metode sebelumnya seperti percetakan dan televisi. Anak-anak terkesan sebagai orang yang paling bertanggungjawab pada pendekatan-pendekatan baru ini: komputer terkadang membebaskan kreatifitas natural dan hasrat untuk belajar, yang buntu karena metode-metode kuno. Kalo zaman dulu, kita harus pergi ke perpustakaan buat nyari bahan tugas, tapi sekarang cukup ketik-ketik lewat mbah google, muncul deh semua yang kita butuhin, atau sekarang kita bisa baca buku elektronik, atau disebut e-book, jadi kita ngga perlu punya bentuk fisik buku tersebut, cukup baca-baca lewat layar handphone saja. Tapi emang sih, bikin kita jadi males. Menurut saya, ngga akan ada yang bisa menggantikan menyenangkannya membaca buku dibanding memandang ebook. Ada perasaan senang, ketika kita mempunyai sebuah buku yang berupa fisik, bukan hanya visualnya saja. Rasa ketika membolak-balikkan halaman demi halaman itu akan berbeda ketika kita hanya menekan-nekan tombol keyboard di komputer, atau gadget.

Emang sih selalu ada dampak baik dan buruk kalau mau belajar sesuatu. Jon Katz (1996) berpendapat bahwa internet itu diibaratkan sebagai makna kebebasan anak-anak: internet menyediakan anak-anak kesempatan untuk lepas dari kontrol orang dewasa, dan untuk membentuk budaya dan komunitas mereka sendiri. Misalnya, anak-anak kadang ngerasa lebih asyik kalau udah main game, ia merasakan kalau game tersebut adalah dunianya, dan anggota-anggota yang bermain game tersebut sebagai komunitasnya. Main game juga sangat menarik karena dapat memicu motorik anak, misalnya dalam menganalisis sifat aturan, mencari kesempatan, membentuk sebuah strategi, dan waktu bermain. Game sebenarnya punya dampak positif dan negatif. Dampak positif ditunjukkan dengan tanggapnya anak dalam mengambil keputusadan mengatur strategi yang harus dilakukan, sedangkan dampak negativenya yaitu kurangnya bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar, dan waktu yang digunakan hanya untuk bermain game saja. Ketika dalam games, akan ada tanda-tanda (semiotika), yang sifatnya tidak hanya konotatif dan denotative. Biasanya tanda-tanda itu cuma bisa dimengerti oleh sesame gamers. Karena  menurut mereka, bermain game itu bukan hanya sekedar permainan, namun didalamnya permainan tersebut memiliki ideology yang memliki makna lebih dari sekedar kata-kata.

Transmedia Intertextual, itu apa sih?

Masih ada kaitannya sama children and new media. Ketika games menjadi budayanya sendiri yang dibuat oleh anak-anak. Lalu muncullah oknum-oknum para kapitalis yang punya modal yang kemudian memanfaatkan budaya tersebut, dengan menawarkan bukan hanya gamenya saja, tapi alat-alat yang biasa digunakan anak-anak seperti alat sekolah, baju, dan lain yang memiliki karakter film atau games yang biasa anak-anak sukai. Itulah transmedia intertextual. Seakan dunia virtual menjadi dunia real, ketika anak-anak tidak hanya melihat film atau memainkan gamenya saja, tapi anak-anak bisa memiliki semacam boneka, alat sekolah dan lain-lain yang bergambar karakter tersebut. Contohnya adalah saya sendiri hehehe. Saya sangat suka dengan serial sesame street yang ditayangkan di televisi, dan saya jadi kegirangan sendiri ketika melihat ada tas elmo, dompet elmo, boneka elmo, lalu kemudian saya membeli barang-barang serba elmo tersebut. Secara tidak sadar, saya telah diperalat oleh oknum-oknum kapitalis. Berdasarkan pengalaman pribadi, ada perasaan puas dan senang ketika saya bisa memiliki barang serba elmo tersebut, karena kita punya bentuk fisiknya, ngga cuma virtualnya saja.

Jadi kesimpulan dari beberapa paragraph ini adalah media baru memiliki dampak negatif dan positif bagi anak. Tapi kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, pasti kita akan dapat dampak yang positif. Nixon (1998) menjelaskan bahwa komputer mewakili jendela ke dunia baru, cara mengembangkan intuisi anak-anak yaitu rasa heran dan haus akan pengetahuan. Dengan berkembangnya teknologi semua fasilitas pun bisa didapatkan sebagai contoh game dizaman yang modern ini anak-anak sekarang lebih memilih bermain didepan layar computer dari pada bersosialisasi diluar dengan teman sebaya mereka. Game bisa membuat perilaku jadi kasar dan agresif karena terpengaruh oleh apa yang dilihat dalam game tersebut. Memang sudah seharusnya anak-anak diajarkan lebih dahulu mengenai media, agar ia tidak salah langkah, karena kebanyakan anak tidak tahu harus berbuat apa saat menggunakan media baru. Dengan adanya teknologi baru memungkinkan anak-anak untuk menciptakan dunianya sendiri. Sehingga mau tidak mau, pemanfaatannya harus bisa optimal, dampak positif dan negative itu bergantung dari kita sebagai pengguna. Diharapkan agar kita bukan hanya menyediakan teknologi, tapi harus cakap dan bijak, agar tidak menjadi korban dari dampak kecanggihan teknologi.

Be a smart internet user! Your time with your family and friends are priceless J

1 April 2015

Perspektif dalam internet


Teknologi sekarang memang semakin canggih, seperti yang saya katakan pada postingan sebelumnya, kita berada di zaman yang mungkin bisa disebut dunia dalam genggaman. Setiap apa yang kita lakukan memang ternyata memiliki perspektifnya sendiri, setelah saya mengikuti perkuliahan Teknologi Komunikasi, saya akhirnya memiliki pemahaman baru mengenai apa saja perspektif dalam penggunaan internet. Postingan kali ini, saya akan membahas mengenai dua perspektif, yaitu perspektif optimis, dan perspektif pesimis, dan implikasi internet terhadap partisipasi masyarakat dalam politik. Apalagi ditambah informasi yang kian berlimpah, yang membuat masyarakat semakin mudah untuk mengetahui perkembangan politik saat ini. Tapi kita juga harus menjadi masyarakat yang cerdik, dan kritis, sehingga kita tidak hanya mengkonsumsinya saja, dan membiarkan media membentuk persepsi kita, padahal kita belum tahu berita itu benar atau salah. Karena jika kita bertindak ceroboh dalam mengakses internet, kita bisa saja terkena dampak negatifnya, kita malahan terbuai atas pemberitaan atau konten yang dipublish di internet. Saya berharap tulisan ini dapat membawa manfaat dan menggiring kita agar menjadi user yang kritis, dan bijak.

Walaupun kelihatannya internet sangat mudah untuk diakses oleh semua kalangannya, namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat mengakses, begitu juga dengan keuntungan yang didapat, setiap orang memiliki porsi yang berbeda. Itulah yang dinamakan perspektif pesimis. Menurut Neu, et.al (1999) masyarakat minoritas seperti orang Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih sangat sedikit kemungkinannya untuk memiliki computer di rumahnya dan kurang memiliki akses terhadap jaringan dibandingkan masyarakat kulit putih dan masyarakat Asia. Sama halnya seperti di Indonesia, masih ada wilayah yang belum dapat mengakses internet, selain jaringan yang memang belum sampai ke wilayah itu, dan juga masyarakatnya belum sadar akan pentingnya hal itu. Computerpun mungkin hanya segelintir orang yang punya, masyarakat pedalaman lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dibanding mengikuti perkembangan informasi. Masyarakat tersebut jelas kehilangan kesempatan untuk ikut dalam kegiatan melalui internet. Selain itu, faktor yang membuat akses internet tidak merata yaitu orang-orang yang berpendidikan dan berpendapatan rendah, serta usia yang lebih tinggi memiliki pengalaman yang minim dalam dunia online. Dalam studi ini juga ada dikatakan bahwa perempuan lebih banyak mengakses internet dibanding laki-laki. Tapi sekarang kebalikannya, lebih banyak laki-laki dibanding perempuan sebagai pengguna internet. Jadi, faktor gender juga dapat mempengaruhi akses internet yang tidak merata.

Sementara itu, perspektif optimis yaitu akses internet yang merata, semua orang dapat mengakses internet, walaupun seorang penyandang cacat. Pada tahun 1990, pemerintah mencari cara untuk memberikan pelayanan universal dan termasuk penyandang cacat. Berbeda dengan perspektif sebelumnya, dalam perspektif ini, pemerintah sangat gencar untuk meratakan agar internet atau teknologi dapat diakses oleh penyandang cacat sekalipun. Seperti yang dikatakan Borchert (1998), bagian 255 dari Undang-Undang Telekomunikasi mensyaratkan layanan telekomunikasi dan membuat peralatan yang dikhususkan untuk penyandang cacat.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan adanya kedua perspektif ini akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang politik?

Rheingold (1993) percaya bahwa masyarakat akan semakin terlibat di proses demokrasi. Masyarakat juga menggunakan internet sebagai sarana untuk menggali informasi seputar politik. Menurut saya, dengan adanya internet justru akan mengurangi intensitas komunikasi interpersonal, bahkan sikap antisocial dalam masyarakat. Sehingga banyak orang menganggap bahwa dunia maya bisa mengurangi arti dari masyarakat dunia nyata. Karena teknologi semakin canggih, kita dapat menggunakan teknologi untuk media berkomunikasi jarak jauh tanpa bertatap muka. Van Dijk (1998) menjelaskan sebuah interaksi tatap muka dalam masyarakat atau disebut masyarakat organic yang dibentuk oleh kelompok yang relative homogen karena masing-masing individu memiliki perbedaan kepentingan, namun sebaliknya, masyarakat dalam dunia maya biasanya heterogen karena satu kepentingan yang dapat menghubungkan mereka. Namun tetap saja yang lebih baik adalah komunikasi yang saling bertatap muka, karena kita sudah mengenal lebih dalam anggota kelompok kita, bukan hanya sekedar dalam dunia maya saja. Manusia zaman sekarang lebih individualis, lebih mementingkan kepentingan pribadinya.


Jika dilihat dari perspektif optimisnya, ya.. memang masyarakat kini sudah mau, setidaknya mencari tahu informasi politik yang ada di Indonesia. Apalagi ditambah dengan adanya teknologi dan internet yang semakin canggih. Memang benar, dengan adanya internet aktivitas masyarakat dalam mencari berita politik di media online meningkat ditambah pengetahuan masyarakat tentang politik juga lebih baik. Namun, semua itu tidak menjamin masyarakat akan terlibat dan partisipasi politiknya meningkat. Selain mudah, informasi tersebut juga diperoleh secara cepat dan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Namun, informasi yang ada juga perlu kita saring, yang mana yang pantas untuk kita iyakan, jangan mudah terpengaruh oleh media. Apalagi zaman sekarang, perusahaan media sudah diambil alih oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, jadi bisa saja yang diberitakan itu hanya untuk membuat citra baik salah satu pihak. Sedangkan jika dilihat dari perspektif pesimisnya, masih saja ada orang yang tidak mengerti isi konten berita tersebut, jadi hanya membaca saja, tanpa ikut berpartisipasi didalamnya. Kemudian juga ditambah dengan banyaknya informasi-informasi yang membuat masyarakat bingung, mana berita yang valid, sehingga dari situlah kadang partisipasi masyarakat menurun.

Kesimpulan dari tulisan ini bahwa tiap unsur lagi-lagi pasti memiliki efek positif dan negative, tergantung kita sebagai pengguna untuk menyikapinya. Yang saya ingat dari Pak Adi, dosen saya berkata bahwa internet adalah eksperimen manusia yang menimbulkan manfaat dan malapetaka. Mengapa disebut malapetaka? Karena nanti ada kalanya kita merasa terisolasi dan tidak mengenal lingkungan sosial karena pengaruh internet. Internet adalah eksperimen yg gagal, karena banyak efek negativenya, manusia jadi mudah menyepelekan suatu masalah. Marilah kita cerdas memanfaatkannya agar tidak mendapat petaka tersebut, agar kita tidak jatuh pada internet itu.

Don't let internet controls you!

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and
Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4 : Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction